Belakangan ini, terlalu banyak hal yang terjadi.
Sejak peristiwa pink-hijau itu, eskalasi konflik terasa semakin meninggi. Orang-orang mulai menunjukkan taringnya. Yang tidak tertuduh merasa tertuduh. Yang tidak tersentuh, ikut merasa tersentuh. Menyenggol pohon yang selama ini tenang dan rindang, namun tidak siap ketika disentuh balik.
Kicau burung terdengar semakin riuh di dahannya—berisik, saling bersahutan, menyebarkan rumor ke mana-mana. Mereka berlindung di balik nama Tuhan, seolah itu cukup untuk membenarkan segalanya.
Jika ada yang bertanya siapa yang paling dirugikan dalam semua ini, mungkin jawabannya sederhana: pohon yang tenang dan rindang itu.
Ironisnya, masing-masing merasa dirinya paling benar. Paling berhak atas kebenaran. Paling dekat dengan rahmat Tuhan. Sementara itu, kata-kata terus berjatuhan, tidak lagi sekadar suara, tetapi membawa gema yang bising. Dari dada yang penuh emosi, lahir ujaran-ujaran yang kehilangan arah. Bukan untuk mencari jalan tengah, melainkan untuk memperlebar jarak.
Ada yang terus berbicara, tanpa henti, tanpa jeda...seolah semua harus keluar, apa pun bentuknya. Hingga yang tersisa bukan lagi percakapan, melainkan pecahan-pecahan yang memecah.

Comments
Post a Comment