Hari ini aku menginap di rumah salah satu saudaraku. Sudah lama aku tidak ke sini. Sudah lama juga aku merasa tak punya cukup tenaga untuk mengobrol dengan banyak orang. Namun, aku tetap harus bersilaturahmi, bertukar sapa dengan keluarga dan orang sekitar. Begitulah manusia hidup.
Aku menatap langit-langit kamar yang polos, mendengarkan suara nyamuk yang riuh bersenandung di balik kelambu usang berdebu. Gelak tawa di ruang lain menggema, mengisi keheningan yang justru aku rindukan. Pernah, pada suatu masa, aku mengira diriku aneh karena tak suka bicara. Aku merasa berbeda karena enggan bertegur sapa.
Namun, hari-hari berikutnya membuktikan bahwa aku bisa berubah. Jika aku ingin, aku bisa tertawa dan bercakap, meski hanya sejenak, sekadar menenun obrolan ringan yang bermakna. Mungkin ini tentang suasana hati yang terus berubah, tentang sesuatu dalam diriku yang belum bisa kurengkuh seutuhnya.
Andai saja aku bisa mengendalikan semua yang ada di dalam kepalaku—daripada membiarkannya berjalan sendiri, tanpa arah, tanpa kendali. Tapi sungguh, bukankah seharusnya aku yang menjadi nahkoda bagi pikiranku sendiri? Ia adalah pusat dari semua hal yang terjadi di duniaku. Dan bila suatu saat aku tiada, bukankah ia yang akan pergi lebih dulu?
Aku memejamkan mata, membiarkan malam menelan segala yang mengganggu. Biarlah bunga tidur menenangkanku, meski hanya untuk sementara.

Comments
Post a Comment